This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 19 April 2013

KONSEP DASAR KOMUNIKASI


·         Komunikasi  adalah suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya.
·         Komunikasi dilakukan dengan menggunakan bahasa verbal, kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.
·         Komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa nonverbal, gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu.

Berdasarkan para pakar :
·         Sarah Trenholm dan Arthur Jansen (1996:4) Komunikasi adalah suatu proses dimana sumber mentransmisikan  pesan kepada penerima melalui beragam saluran.
·         Everett M. Rogers&Lawrence Kincaid (1981:18) Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yg pada gilirannya terjadi saling pengertian yang mendalam.
·         Hoveland (1948 :371) Komunikasi adalah proses dimana individu mentransmisikan stimulus utk mengubah perilaku individu yg lain.

Paradigma Lasswell
Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses menjelaskan siapa? Mengatakan apa? Dengan saluran apa ? Kepada siapa? Dengan akibat atau hasil apa? (Who? Says What? In Which Channel? To Whom? With What Effect?)  (Lasswell, 1960)

Tujuan Komunikasi
Tujuan komunikasi antara lain adalah :
  1. Supaya pesan yang kita sampaikan dapat dimengerti oleh orang lain (komunikan)
Dalam menjalankan perannya sebagai komunikator, perawat perlu menyampaikan pesan dengan jelas, lengkap dan sopan. Hal ini sangat penting agar pesan dapat diterima, sehingga tujuan bersama dalam membantu kesembuhan klien dapat dicapai.



  1. Memahami orang lain
Proses komunikasi tidak akan dapat berlangsung dengan baik bila perawat tidak dapat memahami kondisi atau apa yang diinginkan oleh klien (komunikan). Pemahaman sangat penting agar proses komunikasi berlangsung secara efektif.
  1. Supaya gagasan dapat diterima orang lain
Perawat juga berperan sebagai edukator, yaitu memberikan pengetahuan tentang kesehatan kepada klien.
  1. Menggerakan orang lain untuk melakukan sesuatu
Mempengaruhi orang lain agar mau melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan seorang perawat bukanlah hal yang mudah, maka perlu adanya pendekatan dan kepercayaan terhadap klien bahwa apa yang diharapkan dapat bermanfaat bagi klien.

Sebagai tenaga kesehatan yang memiliki tanggungjawab sesuai dengan tugas dan wewenangnya, secara umum komunikasi yang dilakukan perawat memiliki tujuan dan target yaitu :
1.      Social change / social participation
Komunikasi memberikan perubahan pada masyarakat, menyatukan perbedaan antar individu untuk mencapai suatu kemajuan/perubahan dalam masyarakat.
2.      Attitude change
Mempengaruhi sikap seseorang agar pesan yang disampaikan dapat tercapai dan dapat dipahami dengan baik oleh penerima pesan. Sehingga menimbulkan perubahan pada sikap yang diharapkan.
3.      Opinion change
Menciptakan sebuah opini/ tanggapan terhadap pesan yang telah diberikan. Dengan timbulnya suatu opini memberikan pengaruh penting pada suatu permasalahan.
4.      Behavior change
Perubahan pada tingkah laku menghasilkan harapan yang tercapai pada suatu tujuan komunikasi karena pesan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan (audiens)

Fungsi Komunikasi
Beberapa fungsi komunikasi antara lain:
a.       Informasi, pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran berita, data, gambar, fakta, pesan, opini dan komentar yang dibutuhkan agar dapat dimengerti dan beraksi secara jelas terhadap kondisi lingkungan dan orang lain agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
b.      Sosialisasi
Dengan komunikasi, pesan yang ingin disampaikan dapat menyebar luas kepada masyarakat melalui media (komunikasi massa).
c.       Motivasi
Sebagai penggerak semangat bagi seseorang untuk melakukan hal yang diinginkan.
d.      Perdebatan dan diskusi
Suatu permasalahan dapat dibahas dan diselesaikan dengan menggunakan komunikasi yang intens melalui baik melalui debat atau diskusi.
e.       Pendidikan
Untuk mendorong perkembangan intelektual, pembentukan watak, serta membentuk keterampilan dan kemahiran dapat dilakukan melalui komunikasi.
f.       Memajukan kehidupan
Dengan komunikasi mampu menyebarkan kebudayaan dan seni dengan maksud melestarikan warisan budaya, membangun imajinasi dan mendorong kreatifitas dan kebutuhan estetika.
g.      Hiburan
Dunia entertainment (lawak, menyanyi, drama, sastra, seni dan lain-lain)
h.      Integrasi
Adanya kesempatan untuk memperoleh berbagai informasi dan pesan yang diperlukan dapat mempengaruhi seseorang dalam bersikap, berperilaku dan berpola fikir serta sebagai sarana untuk menghargai dan memahami orang lain dapat diperoleh dari komunikasi yang dilakukan.

Tingkatan Komunikasi
1.      Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi Intrapibadi, secara harfiah dapat diartikan sebagai komunikasi dengan diri sendiri. Hal ini menyangkut proses disaat diri (self) menerima stimuli dari lingkungan untuk kemudian melakukan proses internalisasi. Hal ini sering dijelaskan dengan proses ketika seseorang melakukan proses persepsi, yaitu proses ketika seseorang mengintrepretasikan dan memberikan makna pada stimuli atau objek yang diterima panca inderanya.

2.      Komunikasi Interpersonal
Secara umum komunikasi antar pribadi dapat diartikan sebagai proses
pertukaran makna orang-orang yang saling berkomunikasi.
      Pertama, K.A.P dimulai dengan diri pribadi (self). Berbagai persepsi komunikasi yang menyangkut pengamatan dan pemahaman berangkat dari diri sendiri.
      Kedua, KAP bersifat transaksional, hal ini mengacu pada tindakan pihak-pihak yang berkomunikasi secara serempak mengirim dan menerima pesan.
      Ketiga, KAP, mencangkup isi pesan dan hubungan yang bersifat pribadi (intimacy). Maksudnya, KAP tidak hanya sekedar berkenaan dengan isi pesan, tapi juga menyangkut siapa partner kita dalam berkomunikasi.
      Keempat, KAP mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang berkomunikasi.
      Kelima, partisipan dalam KAP terlibat secara interdependent atau saling bergantung satu dengan lainnya.
      Keenam, Komunikasi tidak dapat diubah atau diulang, jika kita sudah salah mengucapkan sesuatu kepada lawan bicara kita, mungkin kita bisa minta maaf, tetapi tidak berarti menghapus apa yang pernah kita ucapkan.
3.      Komunikasi Kelompok
Secara umum komunikasi kelompok dapat diartikan sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud dan tujuan yang dikehendaki. Seperti berbagi informasi, pemeliharaan diri (self maintenance) atau pemecahan masalah, sehingga menumbuhkan karakteristik pribadi masing-masing anggotanya.
      Pertama, Tatap muka, mengandung makna bahwa dalam komunikasi kelompok setiap anggotanya harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya.
      Kedua, Jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok berkisar tiga orang atau lebih. 
      Ketiga, Maksud dan tujuan dari komunikasi kelompok adalah untuk berbagi informasi, dan pemeliharaan diri (self maintenance). Jika tujuan komunikasi kelompok adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan adalah dimaksudkan untuk menanamkan pengetahuan. Jika tujuannya untuk pemeliharaan diri biasanya komunikasinya dituyjuan sebagai pemuasan kebutuhan pribadi anggota-anggotanya.
      Keempat, Kemampuan anggota untuk menumbuhkan karakteristik personal anggota lainnya. Maksudnya adalah secara tidak langsung masing-masing anggota berhubungan tidak saja dalam konteks kelompok, tetapi juga melibatkan sentuan antar pribadi.
4.      Komunikasi Publik
Proses komunikasi dilakukan dihadapan orang banyak, baik secara aktif maupun pasif.
5.      Komunikasi Organisasi
Komunikasi yang terjadi di dalam organisasi maupun antar organisasi yang dapat bersifat formal atau non-formal dan terstruktur.
6.      Komunikasi Massa
Suatu proses dimana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas. Disisi lain komunikasi massa juga diartikan sebagai proses komunikasi dimana, pesan dari media dicari, digunakan dan dikonsumsi oleh audiens. Dari batasan singkat tersebut, kita dapat melihat bahwasannya karakteristik utama komunikasi massa adalah adanya media massa sebagai alat dalam penyebaran pesannya. 

PROSES dan ELEMEN KOMUNIKASI


Elemen-elemen dalam komunikasi antara lain: Sumber, Komunikator, Pesan, Media, Komunikan, Umpan balik dan Efek.

Sumber
ž  Dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber komunikasi dapat berupa orang, buku, dokumen, lembaga atau sejenisnya (A.W. Widjaja, 2000:30)
ž  Sumber sesuatu yang pasif yang diaktifkan keberadaanya oleh komunikator

Komunikator
ž  Orang atau kelompok yang menyampaikan pesan atau stimulus kepada orang atau pihak lain (komunikan)
ž  Yang perlu diperhatikan menjadi komunikator yang baik :
1.      Penampilan
Penampilan yang baik, sopan dan menarik sangat berpengaruh dalam proses komunikasi. Sebagai seorang perawat, penampilan yang bersih, rapi, sopan dan menarik sangat perlu dalam menjalankan perannya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.
2.      Penguasaan masalah
Sebelum melakukan komunikasi, seorang komunikator hendaknya faham dan dan yakin bahwa yang disampaikan merupakan permasalahan yang penting. Penguasaan masalah sangat penting agar timbul rasa kepercayaan dan mengakibatkan terjadi feedback.
3.      Penguasaan bahasa
Penguasaan bahasa yang kurang baik dapat menyebabkan salah persepsi.

Pesan (message)
ž  Keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator
ž  Materi/ isi pesan dapat bersifat informative (informasi), persuasive (menyakinkan), koersif (perintah)
ž  Hambatan : bahasa dan teknis
ž  Pesan yang disampaikan harus tepat dan mengenai sasaran, dengan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Pesan harus direncenakan dengan baik sesuai kebutuhan
2.      Penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti oleh kedua belah pihak
3.      Pesan harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima serta menimbulkan kepuasan

Channel
ž  Saluran atau sarana untuk penyampaian pesan atau biasa disebut juga media
ž  Media komunikasi dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu:
1.      Media umum : media yang digunakan oleh semua pihak pada umumnya dapat berbentuk elektronik maupun non-elektronik (telepon, HP, surat, dsb)
2.      Media Massa : media yang digunakan oleh komunikasi massa (secara missal) (radio, film, televisi, dsb)
3.      Media Khusus : media yang hanya dapat dipergunajan oleh dan untuk orang-orang tertentu yang mempunyai keahlian dan kewenangan tertentu (kode atau sandi)

Komunikan
ž  Penerima pesan. Dapat digolongkan dlm tiga jenis: personal, kelompok dan massa
ž  Syarat yang harus dimiliki komunikan:
1.      Keterampilan menangkap dan meneruskan pesan
2.      Pengetahuan yang cukup
3.      Siap menerima dan memberi pesan

Feed Back
ž  Respon komunikan terhadap pesan yang diterima baik secara verbal maupun non verbal.
ž  Adanya feedback membantu komunikator dalam menilai apakah pesan disampaikan kepada komunikan dapat dimengerti atau tidak.
  
Effect
ž  Hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni sikap dan tingkah laku seseorang sesuai atau tidak dengan yang kita inginkan.
ž  Efek merupakan tolak ukur keberhasilan komunikasi

Proses Komunikasi


Komunikasi terjadi bila ada sumber informasi yang merupakan bahan atau materi yang akan disampaikan oleh komunikator. Sebelum informasi disampaikan komunikator perlu melakukan penyandian (encoding) untuk mengubah ide dalam otak ke dalam suatu sandi yang dapat difahami. Setelah pesan disandikan kemudian komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan melalui saluran atau media. Ketepatan komunikasi dalam menerima pesan sangat dipengaruhi oleh kemampuan komunikan dalam melakukan penafsiran (decoding). Komunikasi berlangsung efektif bila terjadi feedback antara komunikan dan komunikator sebelum terjadinya perubahan efek/ respon sebagai dampak dari komunikasi.

Prinsip Komunikasi
ž  KOMUNIKASI ADALAH SUATU PROSES: suatu seri kegiatan yang terus menerus, yang tidak mempunyai permulaan atau akhir dan selalu berubah-ubah serta berdampak pada terjadinya perubahan.
ž  KOMUNIKASI ADALAH SUATU SISTEM: masing-masing elemen dalam komunikasi sangat terkait dan mempengaruhi proses komunikasi yang efeketif.
ž  KOMUNIKASI ADALAH INTERAKSI DAN TRANSAKSI: interaksi dalam komunikasi adalah saling bertukar fikiran. Sedangkan transaksi saling memberikan tanggapan.
ž  Komunikasi dapat terjadi secara sengaja atau tidak sengaja:
            disengaja = pesan yang akan disampaikan disiapkan terlebih dahulu 

Sabtu, 06 April 2013

KOMUNIKASI TERAPEUTIK YANG EFEKTIF DALAM KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN

Pengertian Komunikasi Terapeutik

Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan paling bermakna dalam perilaku manusia, apalagi sebagai tenaga profesional seperti perawat dan bidan menggunakan pendekatan pemecahan masalah dalam memberikan asuhan kepada setiap kliennya.
Hay dan Larson (dikutip dari Towsend, 1996) mengidentifikasikan sejumlah teknik yang dapat membantu dalam melakukan interaksi yang lebih terapeutik dengan kliennya. teknik ini dikenal dengan nama Teknik Komunikasi Terapeutik.
sebgai bidan harus mampu menguasai teknik komunikasi ini karena dengan memiliki keterampilan berkomunikasi terapeutik, bidan akan lebih mudah menjalin hubungan saling percaya (trust) dengan klien. dampak selanjutnya adalah memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan.

Menurut Stuart dan Sundeen jugan Linberg, Hunter dan Kruszweski (dikutip dari Hamid, 1996) tujuan terapeutik yang diarahkan kepada pertumbuhan klien meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Realisasi, penerimaan dan rasa hormat terhadap diri sendiri.
  2. Identitas diri yang jelas dan rasa integritas diri yang tinggi
  3. Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim serta saling ketergantungan dan mencintai
  4. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta tujuan personal yang realistis.
Hubungan anatara bidan dengan kliennya merupakan hubungan terapeutik sebagaimana halnya hibingan yang terjadi antara perawat dengan klien, dan bukan merupakan hubungan sosial. Hubungan terapeutik anatar bidan dan klien adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang terapeutik.

Proses Komunikasi yang Efektif
Proses komunikasi terapeutik yang efektif antara bidan/perawat dengan kliennya dapat dibagi menjadi empat fase sebagai berikut :

  1. Fase pra-interaksi, dimulai sebelum kontak pertama dengan klien
  2. Fase orientasi, dimulai pada kontak pertama dengan klien
  3. Fase kerja, bidan danklien mengeksplorasi stresor yang tepat dan mendukung perkembangan kesadaran dri dengan menghubungkan persepsi, pikiran, perasaan dan perbuatan klien
  4. Fase Terminasi, fase yang sangat sulit dan penting dari hubungan terapeutik karena hubungan saling percaya dan hubungan intim terapeutik sudah terbina dan berada pada tingkat optimal

Tabel 1. Tugas bidan pada setiap fase
Fase Tugas
Pra-Interaksi Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri. Analisis kekuatan dan kelemahan profesional diri. Dapatkan data awal tentang klien jika mungkin. Buat rencana pertemuan pertama.
Orientasi Tentukan alasan klien meminta pertolongan. Bina hubungan saling percaya, penerimaan, dan komunikasi terbuka. Rumuskan kontrak bersama klien. Eksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan klien. Identifikasi masalah klien. Rumuskan tujuan bersama klien.
Kerja Eksplorasi stresor yang tepat. Dukung perkembangan kesadaran diri klien pada pemakaian mekanisme koping yang konstruktif. Atasi penolakan perilaku maladaptif.
Terminasi Ciptakan realitas perpisahan. Bicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan. Saling mengeksplorasi perasaan penolakan dan kehilangan, sedih, marah serta perilaku lain.

Tabel

PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI II


Tindakan untuk Mengatasi Masalah Kebutuhan Oksigenasi
1.      Latihan napas
Merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventilasi alveoli atau memelihara pertukaran gas, mencegah atelektaksis, meningkatkan efisiensi batuk, dan dapat mengurangi stress.

Prosedur Kerja :
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
  3. Atur posisi (duduk atau tidur telentang)
  4. Anjurkan untuk mulai latihan dengan cara menarik napas terlebih dahulu melalui hidung dengan mulut tertutup
  5. Kemudian anjurkan pasien untuk menahan napas sekitar 1-1,5 detik dan disusul dengan menghembuskan napas melalui bibir dengan bentuk mulut seperti orang meniup
  6. Catat respon yang terjadi
  7. Cuci tangan


2.      Latihan batuk efektif
Merupakan cara melatih pasien yang tidak memiliki kemampuan batuk secara efektif untuk membersihkan jalan napas (laring, trachea, dan bronkhiolus) dari secret atau benda asing.

Prosedur Kerja:
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
  3. Atur posisi dengan duduk di tepi tempat tidur dan membungkuk ke depan
  4. Anjurkan untuk menarik napas, secara pelan dan dalam, dengan menggunakan pernapasan diafragma
  5. Setelah itu tahan napas selama ± 2 detik
  6. Batukkan 2 kali dengan mulut terbuka
  7. Tarik napas dengan ringan
  8. Istirahat
  9. Catat respons yang terjadi
  10. Cuci tangan


3.      Pemberian oksigen
Merupakan pemberikan oksigen kedalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan alat bantu oksigen. Pemberian oksigen pada pasien dapat melalui tiga cara yaitu melalui kanula, nasal, dan masker dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan mencagah terjadinya hipoksia.

Persiapan Alat dan Bahan:
  1. Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan humidifier
  2. Nasal kateter, kanula, atau masker
  3. Vaselin,/lubrikan atau pelumas (jelly)

Prosedur Kerja:
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
  3. Cek flowmeter dan humidifier
  4. Hidupkan tabung oksigen
  5. Atur posisi semifowler atau posisi yang telah disesuaikan dengan kondisi pasien
  6. Berikan oksigen melalui kanula atau masker
  7. Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak hidung dengan telinga, setelah itu berikan lubrikan dan masukkan
  8. Catat pemberian dan lakukan observasi
  9. Cuci tangan


4.      Fisioterapi dada
Merupakan melakukan tindakan postural drainage, clapping, dan vibrating pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan untuk meningkatkan efisiensi pola pernapasan dan membersihkan jalan napas.

Persiapan Alat dan Bahan:
  1. Pot sputum berisi desinfektan
  2. Kertas tisu
  3. Dua balok tempat tidur (untuk postural drainage)
  4. Satu bantal (untuk postural drainage)


Prosedur Kerja:
Postural drainage
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
  3. Miringkan pasien kekiri (untuk membersihkan bagian paru-paru kanan)
  4. Miringkan pasien kekanan (untuk membersihkan badian paru-paru kiri)
  5. Miringkan pasien ke kiri dengan tubuh bagian belakang kanan disokong satu bantal (untuk membersihkan bagian lobus tengah)
  6. Lakukan postural drainage ± 10-15 menit
  7. Observasi tanda vital selama prosedur
  8. Setelah pelaksanaan postural drainage, dilakukan clapping, vibrating, dan suction
  9. Lakukan hingga lendir bersih
  10. Catat respons yang terjadi
  11. Cuci tangan


Clapping
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
  3. Atur posisi pasien sesuai dengan kodisinya
  4. Lakukan clapping dengan cara kedua tangan perawat menepuk punggung pasien secara bergantian hingga ada rangsangan batuk
  5. Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampung sputum pada pot sputum
  6. Lakukan hingga lender bersih
  7. Catat respons yang terjadi
  8. Cuci tangan


Vibrating
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan
  3. Atur posisi pasien sesuai dengan kondisinya
  4. Lakukan vibrating dengan cara menganjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan meminta pasien untuk mengularkan napas perlahan-lahan. Untuk itu, letakkan kedua tangan diatas bagian samping depan dari cekungan iga dan getarkan secara perlahan-lahan.hal tersebut dilakukan secara berkali-kali hingga pasien ingin batuk dan mengeluarkan sputum
  5. Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampung sputum pada pot sputum
  6. Lakukan hingga lendir bersih
  7. Catat respons yang terjadi
  8. Cuci tangan


5.      Pengisapan lendir (suction)
Merupakan tindakan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir secara sendiri dengan melakukan penghisapan (suction) untuk membersihkan jalan napas dan memenuhi kebutuhan oksigenasi.

Persiapan Alat dan Bahan:
  1. Alat pengisap lendir dengan botol yang berisi larutan desinfektan
  2. Kateter pengisap lendir
  3. Pinset steril
  4. Sarung tangan steril
  5. Dua buah kom berisi laturan akuades/NaCl 0,9% dan larutan desinfektan
  6. Kasa steril
  7. Kertas tisu

Prosedur Kerja:
  1. Cuci tangan
  2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan diaksanakan
  3. Atur pasien dalam posisi telentang dan kepala miring kearah perawat
  4. Gunakan sarung tangan
  5. Hubungakan kateter penghisap dengan selang penghisap
  6. Hidupkan mesin penghisap
  7. Lakukan penghisapan lendir dengan memasukkna kateter pengisap ke dalam kom berisi akuades atau NaCl 0,9% untuk mencegah trauma mukosa
  8. Masukkan kateter pengisap dalam keadaan tidak mengisap
  9. Tarik lendir dengan memutar kateter pengisap sekitar 3-5 detik
  10. Bilas kateter dengan akuades atau NaCl 0,9%
  11. Lakukan hingga lendir bersih
  12. Catat respons yang terjadi
  13. Cuci tangan



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More